Minggu, 28 Maret 2010

Gairah Memek Mbak Fika

Perkenalanku dengan Mbak Fika berawal dari seringnya aku melakukan kegiatan chatting di internet. Singkat cerita, wanita tersebut ingin ketemu denganku di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya. Setelah beberapa saat aku duduk sambil meminum sofdrink yang aku pesan, seorang wanita sebaya berjalan menghampiri tempat dudukku.

"Randy ya.?" sapa wanita tersebut.
"Iya, maaf anda siapa ya?" balasku bertanya.
"Namaku Fika" kata wanita itu mengenal diri.
"Silahkan duduk Mbak" kataku mempersilahkan wanita tersebut duduk.

Setelah memesan minuman American float, kami berdua terhanyut dalam obrolan-obrolan yang terkadang membuat kami tertawa bersama. Umur 33 tahun tidak memperlihatkan tubuh Fika mengendur sedikitpun. Tubuh Fika memang tidak seberapa tinggi, perkiraan aku 165/50. Bibirnya yang sedikit sensual dan dipadu wajahnya yang manis, membuat wanita tersebut kelihatan lebih dewasa. Pinggulnya yang indah dengan style bagaikan gitar spanyol, membuat nafasku naik turun tidak beraturan. Tonjolan bongkahan daging kembar di dadanya yang menurut tebakanku berukuran 34, semakin memperlihatkan sempurnanya wanita tersbut.

"Randy, kenapa kok bengong?" tanya Fika.
"Ngg.. nggak kok Mbak, aku cuman terpana aja dengan Mbak" godaku
"Akh kamu bikin aku GR saja" katanya tersenyum.
"Oya Mbak kemarin kok bisa langsung PV nickname aku?" tanyaku.
"Iya ada seseorang yang kasih nickname kamu, kata temanku kamu orangnya asyik aja" jelas Fika.
"Emang siapa sih Mbak nama teman nya?" tanyaku selidik.
"Sudah deh Randy, maaf aku nggak bisa kasih namanya. Yang penting aku sudah ketemu kamu sekarang" kata Fika menjelaskan.

Kami berdua cerita tentang kehidupan kita masing-masing, dan ternyata Fika termasuk single parent. Itu karena beberapa tahun yang lalu, suaminya pergi entah kemana. Dengan wajah yang sedikit suram, Fika menceritakan kisahnya sampai dia harus bercerai dengan suaminya.

Ada guratan kesedihan yang nampak jelas diwajahnya, aku seperti tersihir dengan ceritanya. Sehingga membuat aku sering menarik nafas panjang. Fika menceritakan kalau di Surabaya ini tinggal dengan kakak perempuannya. Sebut saja kota pinggiran kota Surabaya tinggalnya.

Hampir 1 jam penuh kami bercerita tanpa terasa, sampai akhirnya aku menawarkan untuk mengakhiri pertemuan tersebut.

"Fika, sudah malam nih" kataku
"Iya" jawabnya lirih.
"Mas, aku dianter pulang ya?" pinta Fika.
"Oke, tapi mobilku jelek lho" kataku merendah.
"Jelek-jelek kan beli sendiri, lagian aku butuh orangnya kok" goda Fika.

'DEG' jantungku terasa berhenti seketika walaupun dengan secepat itu pula aku berusaha mengontrol keadaan diriku yang mulai ngeres. Aku berusaha menerjemahkan apa arti sebenernya perkataan Fika tersebut. Betapa bahagianya diriku jika memang dia mau kencan denganku. Seiring obrolan yang sedikit membuat nafasku sesak, kami berdua suadah berada dalam mobil dan segera meluncur untuk mengantar Fika. 45 menit kemudian, kami sudah berada di sebuah rumah yang tidak sebegitu besar tetapi view nya sangat mengagumkan.

"Randy, mampir dulu ya?" ajak Fika.
"Aduh maaf deh, sepertinya ini sudah malam" kataku.
"Sebentar aja, sekalian aku buatin kopi" pinta Fika menggebu.

Tangannya yang lentik menarikku supaya turun dari mobil dan akhirnya aku memarkir mobilku di depan rumahnya. Ketika aku masuk ruang tamu, bau semerbak bunga sedap malam menyengat hidungku dan menambah suasana romantis.

"Randy, silahkan diminum," kata Fika.
"Iy–iya.." jawabku gugup.

Entah berapa lama aku menikmati suasana sekeliling, karena tanpa terasa Fika sudah membawa 2 buah cangkir yang berisi kopi dan teh. Aku langsung meminum kopi hangat yang sudah dihidangkan Fika.

"Mmm, kok sepi memang kakak kamu dimana?" tanyaku.
"Nggak tahu tuh Randy, mungkin lagi keluar" jawab Fika.

Malam itu memang Fika kelihatan sangat menggairahkan, dengan u can see warna cream dipadu dengan rok mini warna merah muda membuat kakinya yang jenjang semakin nampak indah. Sesekali aku meliFik pahanya yang putih mulus sehingga membuat ‘adik kecilku’ mulai berontak.

"Dan, kenapa kok bengong?" tanya Fika mengagetkan lamunanku.
"Tidak apa-apa kok" kataku.
"Dany, aku mau tanya sesuatu boleh nggak?" tanya Fika.
"Silahkan Mbak" jawabku.
"Mmm, kata temanku kamu sering menulis pengalaman ngentot kamu di internet ya?" tanyanya.
"Iy–iya sih Mbak" jawabku dengan wajah memerah.
"Terus apa yang kamu ceritakan itu benar kisah nyata kamu?" tanyanya kembali.
"Iya Mbak, aku sengaja tuangkan di situs itu karena aku belum menemukan sosok yang pas buat aku ajak share tentang masalah ngentot," jelasku.
"Apa istri kamu tahu?" tanya menyelidik.
"Ya pasti nggaklah Mbak" jawabku.
"Aku sudah baca semua karya tulis kamu dan aku tertarik dengan style kamu saat ngentot dengan wanita setengah baya. Sepertinya kamu perfect banget dalam urusan yang satu itu" puji Fika.
"Akh, biasa aja kok Mbak.. " jawabku datar.

Kami membicarakan hal-hal mengenai ngentot dengan jelas dan terbuka, sehingga tanpa terasa jam sudah menunjukkan pk.20.30 malam.

"Mbak sudah malam nih, aku mau pulang dulu ya?" pintaku.
"Iya deh dan tapi.. " Fika tidak meneruskan pembicaraanya.

Fika langsung berdiri dan menghadap tepat di depan wajahku dan sesaat kemudian Fika sudah berada diatas pangkuanku.

"Randy, aku ingin bukti kehebatan kamu dalam ngentot" pintanya.
"Mbak nanti ada orang.. " jawabku ragu

Tanpa bisa meneruskan rasa kekhawatiranku, bibir Fika langsung menyumbat bibirku. Tangannya melingkar di leherku sehingga lumatan bibir Fika seakan menyesakkan nafasku. Kami berdua saling melumat dan mengadu lidah, sehingga lambat tapi pasti birahiku mulai terusik untuk bangkit. Rok mini Fika yang tadinya rapi, sekarang sudah terangkat ke atas. Celana berenda warna pink semakin menambah kesempurnaan pinggul Fika. U can see cream Fika sudah terlepas semua kancingnya sehingga bra nya yang berwarna pink nampak jelas dihadapanku.

Sesekali tubuhnya meliuk-liuk diatas pangkuanku, seakan-akan memberikan indikasi bahwa dia sudah mulai gatal. Sesaat kemudian Fika berdiri dan mengkangkangi wajahku, naluFiku segera menggerakan wajahku untuk medekati selangkangannya. Bibirku yang sudah mulai nakal, menjilati lutut, paha dan sampailah di tengah selangkangan Fika. Aku melihat CD warna pink yang tadinya masih bersih, sudah mulai banjir dengan lendir yang membasahi permukaan nonoknya.

"Ohhk.. Randy.. teruss.." desah Fika.

Dengan lihai, tanganku yang kiri mendorong pantat Fika supaya lebih maju dan tangan kiFiku menyibak CD yang dikenakan Fika. Lidahku dengan mudah mendarat pada lubang nonok Fika yang tampak rimbun ditutupi oleh rambut-rambut kemaluan yang hitam pekat. Bagaikan menjilat es cream, aku semakin berani mengoyak nonoknya dengan lidahku.

"Aoowww.. Daannddyy.. nikmat sekali sayaangg" desah Fika.
"Dannddy.. aku.. keeluuarr.. aaakhh" Fika mendesah panjang dan bersamaan dengan rintihan tersebut, cairan hangat keluar dari lubang nonoknya. Dengan liarnya aku segera menjilati seluruh cairan birahi yang meleleh itu, dan aku segera berdiri dari tempat dudukku semula.

Hanya dengan menyibak rok Fika, aku membimbing tubuh Fika untuk setengah menunduk. Tangannya menopang tubuhnya pada sandaran tempat duduk. Sedetik kemudian aku sudah mengeluarkan batang kontolku, hanya aku buka resletingku, kontolku sudah berdiri tegak keluar. Fika hanya menunduk pasrah dengan apa yang akan aku lakukan. Tanganku segera melorotkan CD Fika sampai sebatas lutut, aku segera menggesek-gesekan kepala kontolku pada lubang Fika.

"Uggh.. Danddy.. gelii.. " rintih Fika.
"Sudah sayang.. masukkan.. aku nggak tahan.. please" pinta Fika.

Setelah berkata demikian, Ammbar segera menekan pinggulnya sehingga batang kontolku mulai mengoyal bibir nonoknya.

"Aooaa.. beesaarr seekali Danddy.." kata Fika.

Hanya sekali tekan saja, seluruh batang konolku sudah terbenam dalam lubang nonoknya, kedua tanganku menahan pinggul Fika agar mengikuti iramaku.

Aku sengaja tidak menggerakkan keluar masuk kontolku, akan tetapi aku menggoyang pinggulku. Gerakan berputar membuat Fika menggerinjang hebat. Dengan santainya aku memainkan gejolak birahinya, sehingga beberapa saat kemudian tangan Fika yang pertamnya menopang tubuhnya pada sandaran tempat duduk, sekarang berganti menekan pantatku untuk tidak melepaskan kontolku saat Fika mencapai orgasme yang kedua.

"Dan.. teruuss.. jangann berhenti saayanng.." rintih Fika.

Mendengar rintihan Fika dan gelagat akan orgasmenya Fika, aku segera menggoyang cepat pinggulku dan sesekali menekan dalam kontolku pada lubang kewanitaanya.

"Amppunn.. kkaamuu.. memang.. hheebbaatt.." rintih Fika.

Beberapa saat kemudian.

"Danddyy.. aakuu nggak tahann.. ookh.. teruss.. sayang.. Dandy" Fika merintih panjang saat aku merasakan cairan hangat membasahi batang kontolku dan jujur saja hal itu membuat birahiku mendekati pucaknya..

"Crek.. Crek.. Crek.. " suara batang kontolku keluar masuk pada lubang nonoknya yang sudah membanjir.

Tubuh Fika tidak lagi menunduk, tubuh kamu berdiri berbelakangan. Tanganku menggapit perut Fika dari belakang, pantat Fika yang sexy menjorok kebelakang dan mendempet sepenuhnya dengan perutku. Tangan Fika memainkan kedua belah payudaranya, posisi ini memudahkan aku untuk melakukan ‘tusukan-tusukan’ kontolku yang lebih mentok dalam lubang nonoknya.

"Mbaak.. aku.. mau.. keluar.." rintihku.
"Iyaa.. Danndydyy akuu jugaa maau laagii.." rintih Fika.
"Mbaak.. kita keluarr.. barengg.." kataku.
"Iyaa.. sayangg.. oookkhh" Fika semakin panjang rintihannya.

Gerakan kami semakin cepat dan tanpa sadar kami melakukannya di ruang tamu rumah Fika. Batang kontolku semakin senut-senut menahan semburan pejuku yang sudah berada di ujung kontolku.

"Daanddydy.. aku.. kkeell.. uuuaarr aakhh" rintih Ambbar.
"Iyaa.. aaku juggaa Mbaakk.. " rintihku panjang.
"Aakkhh.. " kami berdua merintih panjang saat semburan pejuku dalam nonok Fika.

"Crrutt.. Crut.. Crut.. Crutt.. " entah berapa kali semburan pejuku muncrat dalam nonok Fika. Dan disaat aku masih menikmati sisa-sisa kenikmatan persetubuhan tersebut, Fika seketika merubah posisinya dan duduk. Wajahnya tepat di depan batang kontolku yang masih mengencang.

"Mmm.. " bibirnya yang mungil segera melumat batang kontolku. Lidahnya menjilati sisa-sisa tetesan peju yang keluar dari ujung kontolku.

"AAkkh.. Mbaakk.. nikmat sekali.. " rintihku.

Batang kontolku ditelan habis oleh mulut Ammbar yang sensual, hal itu membuat aku semakin terbang saja dan sedikit demi sedikit kontolku mulai melembek dan ‘tidur’ seperti semula.

"Ihh Randy, punya kamu memang luar biasa. Apa yang selama ini hanya aku dengar dari teman-teman, sekarang aku sudah buktikan" puji Fika.

Aku hanya menengadahkan wajahku ke atas langit-langit karena sambil memuji Fika masih saja mengulum, mengocok dan menjilati kontolku. Dentangan jam dinding berbunyi sepuluh kali, aku segera membenahi pakaianku yang amburadul.

"Mbak sudah malam nih, aku mau balik dulu?" kataku.
"Muuacchh.." Fika mengecup kontolku dan kembali memasukkan kontolku dalam CD, serta merapikan celanaku.

Fika bangkit dari duduknya dan berhadapan dengan tubuhku, tangannya merangkul leherku.

"Randy.. ma kasih ya kamu telah membeFikan kepuasan untukku" kata Fika.
"Sama-sama Mbak.. " kataku lirih.
"Kapan-kapan bisa kan kita ulangi lagi?" tanya Fika.
"Bisa Mbak, atur aja waktunya" jawabku pasti.

Bersamaan dengan itu bibir Fika melumat bibirku, 5 menit lamanya Fika melumat bibirku. Setelah kecupan romantis tersebut, aku segera beranjak menuju mobil starletku. Sambil kembali memandang Fika yang berdiri di depan pintu melambaikan tangannya, aku segera menekan gas mobilku untuk meninggalkan rumah wanita tersebut.

Malam itu benar-benar membuat aku tidak bisa melupakan dengan apa yang aku alami, Fika seorang wanita yang anggun ternyata bisa takluk di atas ranjang oleh keperkasaanku.

4 komentar: