Minggu, 28 Maret 2010

Bu Rina Bercinta

Sebulan yang lalu aku pergi kerumah sepupuku Buyung di daerah Bogor, kebetulan rumahnya berada didalam gang yang tidak bisa masuk mobil. Jadi mobilku aku parkir di depan gang dekat sebuah salon. Setiba dirumah Buyung, aku disambut oleh istrinya. Memang istri si Buyung yang bernama Sara 30 tahun memang dikategorikan sangat sexy, apalagi dia hanya mengenakan daster.

"Mas Buyung sedang ke Pak RT sebentar Mas, nanti juga balik," sapa si Sara.
"Oh ya.." jawabku singkat.

Aku disuruh duduk diruang tamu, lalu dia kembali dengan satu cangkir the manis, karena kursi diruang tamu agak pendek, maka dengan tidak sengaja aku dapat melihat persis sembulan kedua belah dada si Sara yang tidak mengenakan BH. Wach pagi-pagi sudah dibuat pusing nich pikirku. Tapi aku hilangkan pikiranku jauh-jauh, karena aku pikir dia sudah termasuk keluargaku juga.

Akhirnya setelah Buyung tiba, kami bertiga ngobrol hingga sore hari. Lalu aku izin untuk menghirup udara sore sendirian, karena aku akan nginap dirumah si Buyung hingga besok pagi. Aku berjalan kedepan gang sambil melihat mobilku, apakah aman parkir disana. Setelah melihat mobil aku mampir ke salon sebentar untuk gunting rambut yang kebetulan sudah mulai panjang. Disana aku dilayani oleh seorang ibu, umur kurang lebih 40-45 tahun, kulit kuning langsat, body seperti layaknya seorang ibu yang umurnya seperti diatas, gemuk tidak, kurus tidak, sedangkan raut mukanya manis dan belum ada tanda-tanda keriput dimakan usia, malah masih mulus, saya rasa ibu tsb sangat rajin merawat tubuhnya terutama mukanya.

"Mas mau potong rambut atau creambath nich," sapa ibu tersebut.
"Mau potong rambut bu" jawabku.

Singkat cerita setelah selesai potong rambut ibu tersebut yang bernama Rina menawarkan pijat dengan posisi tetap dibangku salon. Setelah setuju sambil memijat kepala dan pundak saya, kami berkomunikasi lewat cermin di depan muka saya.

"Wach pijatan ibu enak sekali" sapaku.
"Yach biasa Mas, bila badan terasa cape benar, memang pijatan orang lain pasti terasa enak" jawabnya.
"Ibu juga sering dipijat kalau terlalu banyak terima tamu disalon ini, soalnya cape juga Mas bila seharian potong/creambath rambut tamu sambil berdiri" jawabnya lagi.
"Sekarang ibu terasa cape enggak" tanyaku memancing.
"Memang Mas mau mijitin ibu" jawabnya.
"Wach dengan senang hati bu, gratis lho.. kalau enggak salah khan biasanya bila terlalu lama berdiri, betis ibu yang pegal-pegal, benar enggak bu?" pancingku lagi.
"Memang benar sich, tapi khan susah disini Mas" jawab Bu Rina sambil tersenyum.

Naluriku langsung berjalan cepat, berarti Bu Rina ini secara tidak langsung menerima ajakanku. Tanpa buang-buang waktu aku berkata "Bu, ibu khan punya asisten disini, gimana kalau aku pijit ibu diluar salon ini?" pancingku lagi.
"Mas mau bawa ibu kemana?" tanya Bu Rina.
"Sudahlah bu.. bila Bu Rina setuju, saya tunggu ibu dimobil di depan salon ini, terserah ibu dech mau bilang/alasan kemana ke asisten ibu" Ibu Rina mengangguk sambil tersenyum kembali.

Singkat cerita kami sudah berada didalam hotel dekat kebun raya Bogor. Ibu Rina mengenakan celana panjang, dengan baju terusan seperti gamis. Aku mempersilahkan Bu Rina telungkup diatas tempat tidur untuk mengurut betisnya, dia mengangguk setuju.

"Enggak nyusahin nich Mas"
"Tenang saja bu, enggak bayar koq bu, ini gratis lho." jawabku.

Lalu aku mulai mengurut tumit ke arah betis dengan body lotion. Celana panjang Bu Rina aku singkap hingga ke betisnya, tapi karena paha Bu Rina terlalu besar ujung celana bagian bawah tidak bisa terangkat hingga atas. Ini dia kesempatan yang memang aku tunggu.

"Bu maaf nich, bisa dibuka saja enggak celana ibu masalahnya nanti celana ibu kena body lotion, dan aku memijatnya kurang begitu leluasa, nanti ibu komplain nich"

Kulihat Bu Rina agak malu-malu saat membuka celana panjangnya, sambil langsung melilitkan handuk untuk menutupi celana dalamnya. Lalu aku mulai memijit betis beliau dengan lotion sambil perlahan-lahan menyingkap handuknya menuju pahanya. Kulihat dari belakang Bu Rina hanya mendesah saja, mungkin karena terasa enak pijitanku ini. Saat mulai memijit pahanya body lotion aku pergunakan agak banyak, dan handuk sudah tersingkap hingga punggungnya.

Aku mulai renggangkan kedua kaki Bu Rina, sambil memijat paha bagian dalam. Tampaknya Bu Rina menikmatinya. Tanpa buang waktu dalam keadaan terlungkup aku menarik celana dalam Bu Rina ke bawah sambil berkata "Maaf Bu yach".

Dia hanya mengangguk saja sambil terpejam matanya, mungkin karena Bu Rina sudah mulai terangsang saat aku pijit pahanya dengan lotion yang begitu banyak.

Wow kulihat pantat Bu Rina tersembul dengan belahan ditengahnya tanpa sehelai rambut yang mengelilingi vagina ibu tersebut. Aku mulai lagi memijit paha bagian atas hingga ke pantatnya dengan menggunakan kedua jempolku. Kutekan pantat Bu Rina hingga belahannya agak terbuka lebar, dengan sekali-kali aku sapu dengan keempat jariku mulai dari vagina ke atas hingga menyentuh lubang anusnya.

"Och.. Och.."

Hanya itu yang keluar dari mulut Bu Rina, rupanya dia mulai sangat amat terangsang, tapi dia type yang pasif, hanya menerima apa yang akan diperbuat kepadanya. Aku mulai nakal, kulumuri kelima jariku dengan lotion lalu aku mulai sapu dari anus hingga kebawah ke arah vagina ibu Rina dan diimbangi dengan makin naiknya pantat Bu Rina.

"Och.. Och.. Mas teruskan Mas.. Och.."

Pelan-pelan kumasukan jari telunjuk dan tengah ke dalam vaginanya, lalu kukocok hingga mentok kedinding bagian dalam vagina, sambil perlahan-lahan jempolku menekan lubang anus Bu Rina. Kulihat Bu Rina agak meringis sedikit, tapi tetap tidak ada sinyal menolak. Jempolku sudah masuk ke dalam anus Bu Rina, perlahan-lahan sambil kulumuri agak banyak body lotion kukocok juga lubang anus Bu Rina, hingga sekali tekan jempolku masuk ke lubang anus, sedangkan jari telunjuk dan tengah masuk ke vaginanya, dan aktifitas itu aku lakukan hingga 3 menit.

Dan kulihat Bu Rina sudah tidak lagi meringis tanda kesakitan disekitar lubang anusnya, tapi sudah terlihat diwajahnya rasa kenikmatan, meskipun matanya terus terpejam hanya beberapa kali tersengah.

"Och.. Och.."

Setelah itu aku jilat kuping Bu Rina dengan lidahku sambil berbisik.

"Aku masukan yach Bu kontolku"

Ibu Rina hanya mengangguk setuju tanpa membuka matanya. Lalu aku buka seluruh pakaianku, lalu aku ganjel perut Bu Rina dengan bantal yang kulipat, supaya pantat dan lubang vaginanya agak menguak ke atas. Lalu aku masukan kontolku ke dalam vagina Bu Rina dan kukocok hingga 15menit, lalu kulihat lendir putih sudah mulai keluar dari lubang vagina Bu Rina.

Rupanya Bu Rina sudah mencapai klimaks hingga mengeluarkan pejunya duluan, lalu aku seka dengan handuk dan kuayun kembali kontolku hingga 15 menit kemudian, hingga Bu Rina mencapai klimaks yang kedua kali. Sedangkan kontolku makin tegang saja tanpa isyarat akan memuncratkan peju. Karena sudah pegal juga pinggangku, aku ambil body lotion kulumuri anus Bu Rina sambil kubuka lubang anus tersebut hingga masuk ke dalam, lalu aku pelan-pelan menekan ujung kontolku hingga masuk ke dalam anus Bu Rina.

"Och.. Pelan-pelan Mas.." Bu Rina mengeluh.

Terus kutekan kontolku hingga masuk ke dalam anus Bu Rina, lalu pelan-pelan aku cabut kontolku. Memang kontolku terasa amat terjepit oleh lubang anus Bu Rina, ini membuat aku mulai terangsang. Kutekan lagi kontolku ke dalam lubang anus Bu Rina, dan pelan-pelan mulai kukocok lubang anus Bu Rina dengan kontolku ini sambil melumuri body lotion supaya lubang anus Bu Rina tidak lecet, terus kulakukan aktifitas ini hingga 5menit dan tiba-tiba peju dikontol mulai mengadakan reaksi ingin berlomba-lomba keluar. Lalu kucabut kontolku, dan kulepaskan seluruh pejuku bertebaran diatas sprei.

Setelah itu Bu Rina langsung membersihkan badannya kekamar mandi, lalu kususul Bu Rina di kamar mandi yang sudah tanpa sehelaipun benang ditubuhnya, lumayan bodynya cukup montok, tetenya sudah agak kendur tapi masih menantang seperti buah pepaya yang masih tergantung dipohon, perutnya juga sudah mulai ada lipatan lemaknya, tapi tetap enak dipandang, karena memang warna kulitnya seluruhnya kuning langsat. Lalu aku bantu Bu Rina saat hendak memakai sabun ditubuhnya, demikian juga aku dibantu juga oleh Bu Rina.

Setelah selesai mandi kontolku mulai bangun kembali, lalu kuminta Bu Rina untuk main kembali, Bu Rina memberikan isyarat ok. Dan kusuruh Bu Rina duduk dikursi tanpa mengenakan pakaian selembarpun, kuangkat kedua kakinya ke atas dengan posisi mengangkang lalu kusuruh Bu Rina memeluk kakinya kuat-kuat, lalu aku jongkok dan mulai menyapu vagina Bu Rina dengan lidahku, sambil jari telunjukku ikut masuk ke dalam vagina bagian bawah sambil mengocoknya. Disini Bu Rina tampak mendesah agak keras.

"Och.. Och.. Och.. Masukan saja Mas.. Aku enggak kuat"

Tanpa buang waktu lagi karena memang kontolku mulai keras kembali, kutekan kontolku ke dalam lubang vagina Bu Rina kembali sambil setengah berdiri, sedangkan kedua kaki Bu Rina sudah bersandar di depan bahuku, terus kusodok vagina Bu Rina dengan kontolku, hingga 30 menit lebih aku belum bisa juga mengeluarkan pejuku. Lalu kuminta Bu Rina untuk mengisap kontolku supaya cepat keluar pejuku ini.

Kedua kakinya kuturunkan lalu aku memegang kedua pipinya ke arah kontolku, lalu aku memasukan kembali kontolku ke dalam mulut Bu Rina, disini kulihat Bu Rina mengimbangi dengan isapan serta air liurnya yang mulai menetes dari mulutnya untuk membuatku cepat mencapai puncak. Memang benar-benar lihai Bu Rina, sebelum mencapai waktu lima menit aku sudah tidak tahan lagi menahan pejuku muncrat didalam mulutnya.

Setelah itu kami berdua membersihkan diri kembali kekamar mandi, lalu kami kembali ke salon Bu Rina. Sebelum keluar dari mobil, aku sempat berbisik kepada Bu Rina. Memang yang lebih tua, sangat paham dalam pengalaman dalam hal ini dibanding dengan yang masih muda. Bu Rina hanya tersenyum manis saja, sambil turun dari mobilku dan kembali masuk ke dalam salonnya.

10 komentar:

  1. Balasan